Oleh: defrizal | Maret 11, 2008

Padang, Awalnya Kampung Nelayan

Padang yang terkenal dengan batu Malin Kundang dan Pelabuhan Telur Bayurnya itu terletak di pinggir pantai barat Sumatera dan di lembah perbukitan Bukit Barisan. Hawanya lumayan panas, yaitu antara 23°-32° C pada siang hari dan antara 22°-28° C pada malam hari, sementara tingkat kelembabannya berkisar antara 78-81%.

Pada abad ke-14, daerah ini masih berupa kampung nelayan tidak terkenal yang diperintah oleh penghulu. Baru menjelang akhir abad 18 daerah ini menjadi pelabuhan yang banyak dikunjungi kapal pedagang dari Inggris, Perancis, Portugis, dan Cina. Kopi merupakan salah satu komoditas perdagangan penting pada masa itu.

Sebagaimana umumnya sejarah pendirian kota pada masa kolonial Belanda, Padang dimulai dari pendirian benteng Belanda di Muaro sekitar abad ke-18. Pendirian benteng guna mendukung aktivitas perdagangan. Maka, dari kampung nelayan Padang lalu berkembang jadi kota pelabuhan dan perdagangan. Kapal-kapal VOC hilir mudik di perairan Padang. Pada abad ke 19 Padang merupakan kota terbesar di luar Jawa dan kawasan tersibuk di Padang yaitu Palabuhan Mauro.

Sampai sekarang, Kota Padang mewarisi situs sejarah berupa sejumlah bangunan zaman VOC atau Kolonial Belanda dari abad 19. Bangunan tersebut terletak di sekitar Muara Padang. Beberapa lokasi yang terkenal adalah Pasa Gadang, Pasa Mudiak, dan Pasa Batipuh yang kini disebut sebagai kawasan Kota Lama. Sayang, hingga kini belum ada langkah serius pemerintah kota untuk mengelola situs sejarah tersebut.

Dalam perkembangannya Padang kemudian menjadi pusat administrasi pemerintahan.
Pada tahun 1906, Padang resmi ditetapkan sebagai pemerintahan (gemeente) yang diketuai residen. Setelah Proklamasi 1945, daerah ini sah berstatus kotapraja, kemudian meningkat menjadi Daerah Tingkat II (1965), lalu ibu kota Provinsi Sumatera Barat (1975).

Pelabuhan Teluk Bayur, yang bergabung dalam wilayah Kota Padang pada zaman pendudukan Jepang, menjadi salah satu lambang sekaligus saksi sejarah perkembangan kota beberapa dekade terakhir. Kehadiran pelabuhan ini sangat berpengaruh dalam kegiatan ekonomi kota. Saat ini Pelabuhan Teluk Bayur merupakan pusat pelabuhan di pantai barat Sumatra.

Padang terus berkembang. Aktivitas perdagangan semula terpusat di kawasan pantai dan Pasa Gadang yang lebih dikenal sebagai kawasan Kota Lama di kecamatan Padang Selatan. Dengan berkembangnya kota, aktivitas perdagangan tergeser ke utara, yaitu di Kecamatan Padang Barat.

Kawasan kota berkembang dari Muaro ke Pasa Mudiak, Pasa Gadang, Alang Laweh, hingga Pasar Raya. Berbagai pembangunan fasilitas untuk menunjang kegiatan pemerintahan dan ekonomi terus bertambah. Satu di antaranya adalah Pasar Raya Padang yang setiap hari diramaikan ribuan pedagang tradisional maupun pengusaha pertokoan dan supermarket.

Selain daratan pulau Sumatra, Kota Padang memiliki 19 pulau. Beberapa pulau yang besar yaitu Pulau Sikuai, Pulau Toran, dan Pulau Pisang Gadang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: