Oleh: defrizal | Februari 22, 2008

Manyisiri Hulu Aia Mancua

Terdengar azan bersahutan dari puncak cadas Gunung Singgalang. Memang tempat terbuka dari pepohonan tersebut berangsur gelap. Jarum jam di pergelangan tangan sudah tepat di angka tujuh. Kami harus melaksanakan sholat magrib. Usai azan, Fahmi anggota tim perjalanan yang paling tua itu berteriak ke bawah. “Oi… ambil wuduk di balik tebing ini saja, ada air mengalir jernih,” sebutnya kepada tujuh orang anggota tim yang lain. Kami, dua orang tim yang mengiringi perjalanannya tidak bisa mengikuti informasi Fahmi. Jarak ke sana cukup tidaklah jauh hanya sekitar 200 meter namun dengan kondisi jalan yang berliku-liku dan terjal cukup sulit juga mencapainya apalagi dengan kondisi tubuh yang sudah mulai lelah, maka diputuskan kami menunaikan kewajiban sebagai Muslim di bawah cadas.

Barang dikemasi, walau sekeliling Gunung Singgalang mulai mencekam. Kami tetap melanjutkan perjalanan dengan bantuan cahaya senter. Menuju ke base camp yang telah direncanakan di pinggiran Telaga Dewi yang berada pada kawasan puncak bagian Gunung Tri Arga tersebut. Tak cukup satu jam perjalanan, kami mencapai tempat mendirikan tenda yang direncanakan. Sudah terlihat anggota yang lain, beraktivitas masak-memasak dan sebagian lain sibuk menghidupkan api unggun. Teh dalam cangkir dengan asap yang masih mengepul menyambut kami. “Pukul duapuluh kita briefing,” ujar Syuri ketika menyerahkan dua cangkir minuman tersebut. Dibandingkan dengan gunung lain di Sumatera, Gunung Singgalang memang berkategori lebih ringan. Namun dengan vegetasi hutan lumutnya yang tebal, gunung ini mempunyai kesulitan pendakian sendiri, karena penghobi alam bebas harus berhadapan dengan cuaca lembab dan jalanan becek. Pembangunan beberapa tower di puncak Singgalang juga membuat pendakian ke gunung sedikit tidak menyenangkan lagi. Sepanjang perjalanan kita telah dipandu dengan tiang-tiang listrik yang memenuhi pinggiran jalan setapak. Ini baru awal perjalanan, kami harus mempersiapkan diri untuk lebih cepat, dan hati-hati antara Singgalang dan Tandikek.

Diputuskan dalam briefing perjalan tersebut, perjalanan diawali Ba’da Shalat Subuh dengan membawa makanan dan minuman untuk siang hari siap santap. Sedikit bercanda menikmati beningnya Telaga Dewi di antara cahaya api unggun, serta guyonan segar dari anggota tim yang paling lucu, Rico kami segera menuju peraduan. Hari itu Rabu, jadi kami bisa tidur nyenyak tanpa gangguang pendaki yang lain. Badan tampaknya tak mau kompromi. Rasa lelah, pegal-pegal dan malas menghantam tak berperasaan pada tubuh yang telah tiga minggu terlepas jeratan penyakit Gejala Tipus. Namun tak mau kalah, dengan yang lain kami segera menghidupkan kompor gunung atau biasa kami sebut dengan Trangia. Setelah menunaikan semua kewajiban, petualangan yang kami sebut dengan menyusuri daerah Salo dimulai. Walau terletak di antara Gunung Singgalang dan Tandikek yang sering didaki masyarakat, namun daerah Salo nyaris tidak terjamah. Daerah ini dipenuhi cerita mistik, tentang telaga kumbang dan pendaki hilang tak pernah ditemukan di daerah tersebut. Bukan hanya mistik, daerah tersebut sangatlah menantang. Vegetasi lumut yang tebal hingga tak terasa kita telah berjalan di atas ranting-ranting pohon, jurang-jurang tak kelihatan membuat perjalanan harus extra hati-hati namun tetap harus lebih cepat, karena kami tidak ingin ketemu Inyiak Balang (Harimau) ketika terpaksa menginap di daerah itu.

“Brak,” “Wadaw,” teriakan pertama terdengar sekitar 10 meter di depan. Yos nampak tersenyum kecut ketika berdiri kembali setelah terpersok di antara balok kayu. Bukan hanya itu, walau tidak teratur, teriakan itu terdengar lagi. Namun itulah hiburan di hutan belantara ini. Hutan yang telah menjaga pasokan air dan udara bersih untuk daerah kelilingnya itu. Hanif, rekan satu tim di depan bertanya. “Mana telaga kumbang,” katanya setengah berbisik. Dengan isyarat telapak tangan di depan muka, Hanif hanya mengangguk dan melanjutkan perjalanan. Telaga kumbang, sama seperti telaga dewi merupakan genangan air yang cukup luas berasal dari lubang kawah yang dulu pernah aktif. Telaga ini, berada di sisi kiri perjalan pada jurang yang sangat dalam, hingga jarang ditemukan pendaki. Keberuntungan berpihak pada kami, telaga yang hampir sama luas dengan telaga dewi terpampang indah di balik semak-semak. “Wow bisa main sampan-sampan kita di sini,” kata Hanif tampak senang ketika melihatnya pertama kali. Waktu tidak pernah memberi kesempatan untuk menikmati keindahan itu. Usai santap siang secepatnya, kami segera melanjutkan perjalanan, melintasi hulu air terjun Lembah Anai atau biasa di sebut Aia Mancua. Saat itu puncak Gunung Tandikek tampak menatap kosong dengan asap belerang tipisnya.

Dengan nafas ngos-ngosan, kami bernapas di sela-sela bau belerang. “Siapa kentut,” seloroh anggota tim ketika mencium bau belerang siang menjelang sore itu. Lereng-lereng berwana-warni dengan kabut belerang tipis, serta pemandangan terbuka puncak gunung bersentuhan dengan kaki langit menyadari kami tentang kekuasaaan pencipta tanpa batas.
Tidak mau berlama-lama, usai istirahat tim memutuskan turun menuju Kota Padangpanjang. Perjalanan sedikit lebih nyantai, jalur yang dilewati sudah sangat jelas dan sering dilewati pendaki lain termasuk petugas BMG yang hendak memantau gunung aktif ini. Vegetasi Gunung Tandikek merupakan gudang air dari Aia Mancua. Aliran anak air yang jernih dan deras mensuplai keindahan air terjun tersebut. Memang hutannya sedikit lebih jarang dibandingkan satu tahun lalu. Entah kenapa, kami juga tidak tahu hanya terlihat beberapa areal telah menjadi sisa-sisa pembakaran semak belukar. Kami berfikir suatu hari nanti, aia tajun tidak akan berair lagi. Namun siapa yang akan menjawab tanya, jika kita hanya bisa berteriak sumbang tentang kewajiban pelestarian alam. Bagaikan bayang-bayang di tengah malam.


Responses

  1. visit my blog
    http://jerzz.wordpress.com/
    ingin tukeran link mohon konfirmasi di blog saya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: