Oleh: defrizal | Februari 22, 2008

Bilih dan Sasau, di Dunia Hanya di Singkarak dan Maninjau

Orang Minang terkenal dengan masakan dan makanannya. Rendang daging, jangek (kerupuk kulit sapi), lapek pisang, hingga bubur kampiun (semacam campuran bubur kacang hijau dengan bubur kacang hitam). Apapun bisa menjadi santapan yang lezat di tangan mereka. Bagaimana dengan ikan?

Rupanya, selain ikan laut dan ikan air tawar (sebagian wilayah Sumatra Barat adalah air) yang selalu tersedia dalam keadaan segar di pasar-pasar, Ranah Minang juga menyimpan potensi ikan khas yang endemik di Danau Singkarak. Ikan tersebut adalah ikan bilih. Sepintas, fisik ikan bilih mirip dengan ikan teri ukuran sedang. Ikan bilih di asumsi sejenis ikan teri. Namun berbeda dengan ikan teri dari Medan misalnya, ikan bilih memiliki tekstur dan ukuran tubuh yang lebih besar dan renyah. Ikan ini memiliki daging lebih banyak dibandingkan ikan teri biasa, juga tidak asin.

Dagingnya yang cukup tebal itu sangat lezat. Panjang ikan bilih sebetulnya bisa mencapai jari tangan orang dewasa, tapi akibat penangkapan yang semakin meningkat saat ini ikan bilih yang dijual lebih banyak berukuran kecil. Di daerah asalnya, tepian danau Singkarak, banyak warung yang menjual ikan bilih ini untuk dimakan atau dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Umumnya ikan-ikan itu segera dimasak setelah ditangkap. Jika Anda berwisata ke Danau Singkarak maka Anda dapat menikmati pemandangan yang indah disertai suguhan nasi berlauk ikan bilih.

Di kota-kota di Sumatra Barat, ikan bilih dapat ditemui di pasar-pasar hingga di toko-toko yang khusus menjual makanan khas untuk oleh-oleh. Mencarinya tidak terlalu sulit. Cukup bertanya sedikit, maka akan ada orang yang menunjukkan lokasi penjualan ikan yang rasanya sangat gurih tersebut. Harga ikan bilih bermacam-macam, tergantung lokasi pembelian dan keberhasilan menawar. Bila kita membeli langsung dari Danau Singkarak, tentu harganya lebih murah. Di pasar di kota Padang, masih ada toko yang menjual satu plastik ikan bilih (sekitar satu kilogram) dengan harga Rp. 10.000. Di daerah Bukittinggi, harganya lebih bervariasi, antara 25.000 hingga 50.000. Semuanya sudah dimasak.

Ikan bilih (masak) dapat langsung dimakan tanpa bumbu apapun. Biasanya, ikan ini menjadi salah satu opsi lauk bagi pencinta alam untuk makan selama mendaki gunung. Untuk acara piknik keluarga, ikan ini juga sering menjadi pilihan makanan. Makan nasi dengan ikan bilih (saja) cukup mengenyangkan. Namun ikan bilih akan lebih lezat jika dimakan bersama sambal atau dicampur bersama lauk lain. Opsi campuran untuk ikan bilih (jangan lupa diberi sambal/cabai) adalah irisan panjang kentang, tempe, tahu, hingga telur puyuh. Hidangkan bersama nasi hangat. Hmmm…!!! Rasanya makin nikmat!

Ikan bilih, memang tidak bisa dipisahkan dari Danau Singkarak. Ikan yang memiliki nama ilmiah mystacoleuscus padangensis ini termasuk jenis ikan langka karena hanya satu-satunya ada di dunia. Ikan bilih goreng bisa ditemukan di setiap rumah makan yang ada di sepanjang pinggiran Danau Singkarak. Bahkan, jika menginginkannya sebagai buah tangan, bisa mendapatkannya dalam bungkusan di warung penjual makanan ringan di pinggiran danau. Pergi saja ke Pasar Ombilin, maka oleh-oleh khas Danau Singkarak ini dengan mudah didapatkan.

Ikan bilih memang tergolong ikan berurukan kecil. Sebenarnya, ikan ini bisa berukuran sebesar jempol orang dewasa, namun belakangan karena semakin terganggunya habitatnya, yaitu Danau Singkarak, paling mujur bisa mendapatkan ikan bilih berukuran teri besar. Sekarangpun, mendapatkan ikan bilih sedikit sulit. Hal itu karena semakin menurunnya produksi. Aktifitas masyarakat di pinggiran danau yang biasanya mengandalkan mata pencaharian sebagai nelayan pencari ikan bilih saat ini tidak banyak lagi karena semakin sulitnya mencari ikan ini.

Penurunan debit air danau dikhawatirkan menjadi penyebab menurunnya populasi ikan bilih. Bahkan, eksploitasi besar-besaran yang dilakukan jauh-jauh hari belakangan menyebabkan ikan langka ini terancam punah. Tahun 1990-an, nelayan di pinggiran danau bisa menangkap ikan bilih mencapai 75 kg perhari. Namun, sekarang 5 kg saja sudah luar biasa. Lantaran ancaman kepunahan ini, agaknya bagi mereka yang ingin melepas selera menikmati ikan bilih musti menahan hasrat untuk makan berpuas-puas. Sekadar mencicipi keunikan rasanya, agaknya tidak masalah.

Di samping ikan bilih, satu jenis ikan lagi yang juga hanya dapat ditemukan di Singkarak dan Maninjau adalah ikan sasau. Ikan ini mirip dengan nila, sehingga beratnya bisa mencapai 1-2 kg. Untuk menikmati gurihnya rasa sasau, rumah makan di sepanjang danau sudah menyiapkannya dengan menu yang menggugah selera. Nikmatilah gulai sasau yang pastinya akan membuat lidah tidak pernah berhenti bergoyang.

Ikan sasau menjadi keunikkan yang ditawarkan Danau Singkarak. Namun, kekhasan rasa ikan yang tepat sebagai teman penyantap nasi putih ini memang belum sepopuler terkenalnya Danau Singkarak. Padahal, ada cara yang bisa berkesan untuk menikmati kegurihan ikan ini, menangkapnya langsung dengan memancing di danau. Danau Singkarak memiliki luas 107,8 km persegi. Danau ini merupakan danau terluas ke dua di Pulau Sumatera. Danau ini merupakan hulu Batang Ombilin. Di sisi danau berdiri Jembatan Ombilin, sebuah jembatan tua yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda, yang sampai kini bentuk aslinya masih dipertahankan. Selain penghubung antar kota dan kabupaten di Sumatera Barat, Jembatan Ombilin juga berfungsi sebagai batas teritorial Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok.

Ikan bilih dewasa berukuran panjang 65 sampai 80 mm, atau seukuran jari telunjuk orang dewasa. Ikan ini berwarna keperakan, mengkilap serta tidak bersisik . Karena permintaan akan ikan ini begitu tinggi, berdasarkan data tahun 1997, stok ikan bilih yang tersedia mencapai 542,56 ton. Yang telah dieksploitasi sebesar 416,90 ton (77,84 persen). Kini, populasi ikan langka ini semakin menurun. Agar ciri khas Danau Singkarak tetap terjaga, populasi ikan bilih juga harus dipertahanakan. Jangan sampai kebanggaan itu hilang dan tinggal cerita belaka.


Responses

  1. Sedikit koreksi Gan!! Sebenarnya Sasau (Hampala mocrolepidota) tu lebih mirip ma Ikan Garing ato Ikan Mas (Carp Family) n rasanya agak jauh ama nila or mujair (Chiclid) miripnya. But, Nice Post Gan!! Tambahin post ttg Singkarak ya!! Foto-foto singkarak juga bisa diliat di http://www.singkarakbloer3y.blogspot.com

  2. ooo..www singkarak begitu indahnya pemandangannya ,kebersihannya tampak bersi,semogamewujudkan danau yang ter kenal……bye….bye…….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: